PEMIKIRAN
FILSAFAT THEODOR W. ADORNO
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Barat Kontemporer
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Siti Nurlaili M., M.Hum.
Disusun oleh:
Eviyati Masrina 121121008
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2014
PEMIKIRAN FILSAFAT THEODOR W. ADORNO
I.
PENDAHULUAN
Theodor W. Adorno merupakan salah satu penganut Mazhab Frankfurt
generasi pertama. Mazhab Frankfurt biasa disebut juga dengan neomarxisme atau
ada juga yang menyebutnya sebagai teori kritis. Berawal dari marxisme yang
hendak menghapuskan hak milik perseorangan. Hal itu merupakan bentuk protes
Marx terhadap kaum kapitalis yang sewenang-wenang mempekerjakan kaum proletar
namun keuntungan hasil kerjanya di ambil oleh kaum kapitalis. Marx berkeinginan
bahwa paham kapitalisme harus diganti dengan paham komunisme, yaitu paham yang
ada di bidang politik yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan. Inilah
dasar dari teori marxisme.
Kemudian muncullah teori kritis mazhab frankfurt. Teori kritis
mazhab frankfurt adalah bentuk kritisi dari marxisme atau biasa disebut dengan
lanjutan marxisme, tetapi dalam perkembangannya tetap tidak meninggalkan inti
dari ajaran marxisme sendiri. Adapun inti dari teori kritis ini adalah ide dan
pengetahuan harus bebas dan tidak boleh menjadi pokok ajaran yang memaksa dan
harus menghasilkan suatu perubahan yang positif. Ketika suatu ilmu pengetahuan
atau teori berhenti pada dogma maka ia
akan kehilangan fungsi kebebasannya sehingga sebatas menjadi pembenaran pada
kondisi yang ada pada saat itu.
II.
PEMBAHASAN
A.
Sekilas Tentang Mazhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt digunakan untuk menunjukkan sekelompok sarjana
yang bekerja pada Institut fur Sozialforschung (Lembaga untuk Penelitian
Sosial) di Frankfurt am Main. Lembaga ini didirikan pada tahun 1923 oleh Felix
Weil, anak seorang pedagang gandum yang kaya raya dan sarjana dalam ilmu
politik.[1]
Institut Penelitian ini tidak mau bergantung pada Universitas Frankfurt, yang
pada saat itu masih muda, walaupun anggotanya mengajar di Universitas Frankfurt
tersebut. Kebanyakan anggotanya merasa simpati kepada marxisme.[2]
Mazhab Frankfurt beranggotakan cendekiawan-cendekiawan
senasib-sepenanggungan yang mengalami remuk redamnya peradaban umat manusia di
Eropa pada paruh pertama abad XX. Mereka gelisah, mereka cemas dan oleh karena
itu merasa harus bertindak dengan cara mereka sendiri demi
mempertanggungjawabkan karunia kecerdasan dan hati nurani yang mereka miliki.
Latar belakang inilah yang menyatukan mereka ke dalam satu visi dan misi
sekaligus aksi yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mazhab.
Adapun tokoh penting dalam Mazhab Frankfurt disamping ada Theodor
W. Adorno yang lain adalah Horkheimer, Marcuse, dan Habermas. Maka gerakan
tersebut identik dengan gerakan Teori Kritis Karena mengkritisi
pandangan-pandangan marxisme yang sempit.
Filsafat yang dipraktekkan di dalam Mazhab Frankfurt dikenal
sebagai “teori kritis”. Kalau kita ingin menentukan kedudukan teori kritis
dalam rangka sejarah filsafat, maka terutama tiga faktor harus dikemukakan :
teori kritis secara khusus dipengaruhi oleh Hegel, Marx dan Freud. Yang dikenal
agak umum ialah peranan filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Mazhab
Frankfurt, sampai-sampai ajaran mereka tidak jarang ditunjukkan dengan nama
“neomarxisme”.[3]
Keterkaitan mazhab Frankfurt terhadap pemikiran Karl Marx
disebabkan antara lain oleh ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan
teori-teori Marxisme oleh kebanyakan orang lain, yang mereka anggap merupakan
pandangan sempit terhadap pandangan asli Karl Marx. Menurut mereka, pandangan
sempit ini tidak mampu memberikan jawaban terhadap situasi mereka pada saat itu
di Jerman.[4]
B.
Biografi Theodor W. Adorno
Adorno lahir dengan nama Theodor Wiesengrund Adorno pada tahun 1903
di Frankfurt. Ayahnya Wiesengrund adalah seorang pedagang anggur keturunan
Yahudi. Ibunya dikenal sebagai penyanyi terkenal sebelum ia menikah.[5] Menurut
Martin Jay, ia menghapus Wiesengrund dari namanya karena dianggap agak berbau
Yahudi. Pada saat berusia 15 tahun, antara tahun 1918 dan 1919 ia belajar
dibawah asuhan Siegfried Kracauer di tingkat Gymnasium. Setelah menyelesaikan
pendidikannya di Gymnasium, ia masuk di universitas Frankfurt tempat ia belajar
filsafat, sosiologi dan musik. Ia menerima gelar doktor filsafat pada tahun
1924. Pada tahun 1925, ia pergi ke wina untuk belajar komposisi dibawah
bimbingan Alban Berg dan mulai menerbitkan beberapa artikel tentang musik.[6]
Pada waktu terjadi huru-hara di Jerman, dimana Partai Nazi yang
dipimpin Adolf Hitler berusaha menghabiskan semua bangsa Yahudi yang berada di
Jerman dengan cara membantai mereka. Maka Adorno yang notabene keturunan Yahudi
dari garis ayahnya, bersama beberapa tokoh mazhab Frankfurt yang lain,
diantaranya Max Horkheimer, Herbet Marcuse, dan Erich Fomm, memutuskan untuk
pindah ke Amerika Serikat.
Kemudian pada tahun 1937, Adorno berkunjung ke New York dan
memutuskan untuk menetap di sana dan berpisah dengan sahabat dekatnya (Benjamin)
yang tetap tinggal di Eropa. Sejak saat itu komunikasi Adorno dengan Benjamin
hanya sebatas melalui surat. Adorno mulai memfokuskan diri untuk aktif di
sebuah Institut Penelitian Sosial di Columbia University dan selebihnya
perhatiannya dicurahkan sebagai direktur musik pada sebuah proyek radio yang
dipimpin oleh seorang sosiolog Austria, Paulus Lazarsfeld, di Universitas
Princeton.[7]
Bersama Max Horkheimer, Adorno tampak menampilkan nada pesimistik
terhadap akal budi zaman pencerahan dan hal itu ditulisnya dalam Dialectic
of Enlightenment yang pertama kali terbit pada 1947.[8]
Adapun karyanya yang paling masyhur dalam kalangan paling luas ialah The
Authoritarian Personality (1950), yang ditulis oleh Adorno bekerja sama
dengan Else Frenkel-Brunswik, Daniel J. Levinson, dan R. Nevitt Sanford. Studi
tentang kepribadian otoriter ini dilatarbelakangi pengalamannya dengan fasisme
di Eropa. Sebagai studi tentang psikologi sosial, buku ini mengaitkan dengan
cara memuaskan gagasan-gagasan Mazhab Frankfurt dengan metode empiris yang
lazim di Amerika Serikat. Mazhab Frankfurt ini lebih memberi perhatian besar
kepada masalah otoritarianisme.[9]
Selain tinggal di New York, Adorno juga pernah tinggal di
California dan kembali ke Jerman pada tahun 1949 setelah berlalunya huru-hara
di Jerman yang cukup mencekam bagi bangsa Yahudi. Di Jerman ia mengambil posisi
sebagai filosof di bagian departemen filosofi.[10]
Pada tahun 1949 itu juga, Adorno mendirikan kembali Institut Penelitian Sosial
bersama sahabatnya, Horkheimer dan serentak juga menjadi profesor di
Universitas Frankfurt. Jika Horkheimer mencapai umur pensiun pada 1958, Adorno
menggantikannya sebagai direktur Institut Penelitian Sosial di Frankfurt sampai
saat kematiannya yaitu pada tahun 1969.[11]
Perlu diketahui bahwa Adorno ini merupakan pengarang yang produktif
sekali, karena buku yang ia tulis mempunyai tema yang berbeda-beda.
Adapun karya-karya Adorno yang lain diantaranya :
1.
Philosophy
der neuen Musik (1949) /
Filsafat tentang musik modern
2.
Minima
Moralia (1951) / Kemerosotan moral
3.
Prismen
(1955) / Prisma-prisma
4.
Dissonanzen
(1956) / Pengantar pada metakritik tentang teori pengenalan
5.
Einleitung
zur Metakritik der Erkenntnistheorie (1956)
/ Pengantar pada metakritik tentang teori pengenalan
6.
Einleitung
zur Musik Soziologie (1962) /
Pengantar soaiologi musik
7.
Jargon
der Eigentlichkeit (1964) / Yargon otentisitas
8.
Negative
Dialektik (1966) / Dialektika negatif
9.
Aufsatze
zur Gesellschaftstheorie and Methodologie
(1970) / Karangan-karangan tentang teoro sosial dan metodologi
10.
Ueber
Walter Benjamin (1970) /
mengenai Walter benjamin
Semua tulisan yang telah diterbitkan oleh Adorno sendiri,
dikumpulkan dalam suatu edisi buku Theodor W. Adorno : Gesammelte Schriften,
Suhrkamp, Frankfurt am Main, 20 jilid, 1973-1982. Seluruh warisan tertulis
Adorno disimpan dalam “Arsip adorno” yang bermukim pada perpustakaan
Universitas Frankfurt (naskah yang tidak pernah diselesaikan, teks kuliah,
ceramah, wawancara, korespondensi, dan sebagainya) dan sedang diseleksi untuk
diterbitkan.
C.
Pemikiran Filosofis Theodor W. Adorno
Tidak dapat diragukan lagi bahwa pemikir Jerman ini bergerak dalam
wilayah ilmiah yang amat luas. Namanya menjadi tersohor dalam hubungan dengan
filsafat, sosiologi, psikologi maupun musikologi. Dan terus menerus ia
menerobos tapal batas antara ilmu-ilmu itu.[12]
Salah satu ciri yang menonjol dalam pandangan filosofisnya adalah
penolakannya terhadap pemikiran sistematis.[13] Hal
ini berasal dari keberatannya terhadap berpikir metodologis. Filsafat
sistematis dan pemikiran metodologis, menurutnya memiliki kecenderungan untuk
sampai pada kesimpulan yang hanya mengkonfirmasi asumsi yang terkandung dalam
premis-premisnya.
·
Emansipasi
dan rasionalitas.
Adorno ingin mempertahankan ide dasar Aufklarung, yaitu emansipasi
dengan menambah jalan rasionalitas.[14] Hanya
dengan kritik radikal atas pemikiran masa Pencerahan yang berkisar pada paham
“kemajuan”, dapat ditentukan arti rasionalitas bagi zaman kita ini. Dengan kata
lain, hanya dengan mencari sebab-sebab gagalnya emansipasi yang begitu
dicita-citakan oleh teori-teori kemajuan dalam masa Pencerahan dan sesudahnya,
dapat kita buka perspektif baru bagi zaman kita sekarang.[15]
“Dialektika Pencerahan” adalah judul sebuah buku karya terkenal
dari Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno yang ditulis bersama pada tahun 1944.
Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul “Dialektik der
Aufklarung” dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “Dialectic of
Enlightenment”. Secara umum isi buku tersebut bermuatan kritik terhadap
modernitas yang dipandang oleh Adorno dan Horkheimer sebagai sejarah dominasi
atau penguasaan. Pemikiran mereka secara umum senada dengan kritik Karl Marx,
adapun yang membedakan adalah bahwa Adorno dan Horkheimer tidak menjelaskan
sejarah penguasaan dari hubungan produksi, melainkan dari dorongan psikologis
manusia yang berkeinginan kuat untuk menguasai pihak lain. Melalui Dialektika
Pencerahan tersebut Adorno dan Horkheimer lebih jauh mengkritik kesadaran yang
ada pada masyarakat itu sendiri dengan kesadaran modern, yang dengannya bahwa
rasio sebagai alat utama dominasi. Lebih lanjut, Adorno dan Horkheimer juga
beranggapan bahwa pencerahan yang dipandang sebagai kemajuan dari cara pandang
mitologis, sebenarnya telah menjadi mitos itu sendiri. Lebih jauh, mitos itu
pada gilirannya juga menghasilkan penindasan dan penguasaan manusia yang satu
terhadap yang lainnya. Kenyataan terjadinya penindasan tersebut, antara lain
sebagaimana yang dialami Adorno sendiri, yaitu dengan munculnya ideologi fasisme
di Jerman, disamping juga kepincangan-kepincangan yang diakibatkan dari
kemajuan teknologi yang telah memanupulasi manusia, pada umumnya.[16]
·
Kemajuan
sebagai teori dialektis.
Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia semakin mendalam dari
cengkeraman alam.
Kemajuan sepanjang sejarah merupakan suatu emansipasi. Namun
kemajuan tidak dapat dipikirkan terlepas dari kemundurannya. Sebab, kemajuan
tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan yaitu
alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka dari itu suatu teori tentang
kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya kemajuan hanya
dimengerti sejauh kemunduran turut dimengerti. Inti dialektis adalah
penguasaan.[17]
·
Negativitas
total.
Adorno menyamakan prinsip penguasaan dengan prinsip rasionalitas.
Dengan rasionalitasnya manusia menaklukkan bumi kepadanya. Hal ini dinamakan
Adorno sebagai teknologi. Yang paling
penting bagi Adorno ialah dengan menaklukkan alam kepadanya manusia belum masuk
dalam kebebasannya.
Namun, manusia ingin membebaskan diri dengan menguasai alam, pada
zaman sekarang ini menjadi obyek penguasaan itu. Daripada menghasilkan
emansipasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknik (atau dengan perkataan lain,
seluruh proses penguasaan alam) membuat manusia menjadi obyek. Manusia sebagai
subyek yang menguasai, menjadi obyek penguasaannya sendiri. Ia yang ingin membebaskan
dirinya sendiri, pada kenyatannya diperbudak saja. Keadaan inilah yang disebut
sebagai “negativitas total”.[18]
·
Sejarah
ditandai dengan malapetaka permanen.
Adorno beranggapan bahwa sejarah ditandai oleh suatu “malapetaka
permanen” (a permanent catastrophe). Hal ini harus mempunyai dasarnya
dalam awal-mula sejarah. Pada permulaan sejarah sebagai malapetaka permanen
terdapat suatu tindakan irrasional, yaitu kemampuan untuk menguasai alam secara
total. Tetapi jika permulaan sejarah, dan dengan itu juga seluruh sejarah selanjutnya
bersifat irrasional, maka dapat ditarik kesimpulan pula bahwa sejarah tidak
mutlak perlu harus berlangsung seperti adanya (melawan Hegel). Adorno mengakui
kemungkinan utopi, artinya kemungkinan timbulnya suatu masyarakat yang sama
sekali lain daripada yang kita kenal dalam sejarah konkret. Tetapi serentak
juga ia merasa pesimistis terhadap kemungkinan untuk sekarang ini
merealisasikan suatu masyarakat yang benar. Untuk saat ini Adorno hanya melihat
kemungkinan untuk membiarkan pikiran akan masyarakat benar menjadi matang dalam
teori (teori tentang negativitas total).[19]
·
Penderitaan
mendobrak penguasaan total.
Rasio sendiri tidak dapat memecahkan belenggu yang mengikatkan
rasionalitas yang terbelenggu. Namun demikian, sudah nyata suatu kritik radikal
hanya mungkin berdasarkan rasionalitas (yang terbelenggu itu). Cara mendobrak
penguasaan total itu menurut Adorno hal itu hanya mungkin berdasarkan
pengalaman tentang pederitaan. Penderitaan meloloskan diri dari penguasaan
total dan akibatnya dapat menyadarkan serta mengatasi negativitas total. Adorno
melukiskan penderitaan sebagai obyektifitas yang menekan subyektifitas. Maksudnya
bahwa penderitaan merupakan sustu hal yang bersifat subyektif (menyangkut
subyek sebagai subyek), tetapi serentak juga melebihi subyek, karena disebabkan
oleh fakta-fakta obyektif.[20]
Kebebasan filsafat, menurut Adorno tidak lain daripada kesanggupan
untuk memberi suara kepada ketidakbebasan. Kiranya sudah jelas bahwa filsafat
Adorno bersifat pesimistis.
III.
KESIMPULAN
Theodor W. Adorno adalah seorang filsuf, sosiolog, musikolog dan
komponis. Ia dilahirkan di kota Frankfurt, Jerman. Adorno merupakan salah satu
dari tokoh penting dalam Mazhab Frankfurt. Mazhab Frankfurt yang terkenal
dengan “Teori Kritis” nya, dia bersama Max Horkheimer menulis buku “Dialektika
Pencerahan” yang cukup spektakuler. Isi buku tersebut yaitu tentang kritik
terhadap modernitas, yang dipandang oleh Adorno sebagai kendaraan bagi dominasi
dan penguasaan. Disamping itu, Adorno juga mengkritik kesadaran yang ada pada
masyarakat itu sendiri yang terbelenggu dengan pemahaman tentang kemoderenan
dan mengakibatkan harkat kemanusiaan terpuruk dalam posisi sebagai obyek bukan
sebagai subyek. Keterpurukan tersebut menunjukkan bahwa manusia kehilangan
individualitasnya, demikian juga masyarakat kehilangan kemanusiaannya dan
kemasyarakatannya.
Melalui teori kritisnya, perjuangan Adorno beserta kawan-kawannya
telah memberikan pencerahan dengan kebijakan yang kritis atas
seluruh fenomena kemoderenan. Salah satu maksud praktis dari Teori Kritis
adalah membantu proses refleksi diri masyarakat atas proses pembentukan diri
masyarakat itu. Proses rasionalitas adalah proses menuju otonomi dan kedewasaan. Teori
Kritis mengkritisi modernitas ketika mereka mau mengabsolutkan rasio instrumental
dalam bentuk kekuasaan dan kemakmuran ekonomis.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Maksum, Ali, Pengantar
Filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Yogyakarta : Ar-Ruz
media, 2011.
Mudhofir, Ali, Kamus
Filsuf barat (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001).
Lechte, John, 50
Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, (Yogyakarta :
Kanisius, 2001).
Bertens,
K, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, (Jakarta : PT Gramedia
Pustaka Utama, 2002).
Tjahjadi, Simon
Petrus L, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan dari Descartes sampai Whitehead, (Yogyakarta
: Kanisius, 2007).
[1] K. Bertens,
Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama, 2002), hal. 194.
[4] Ali Maksum., Pengantar
Filsafat dari Masa Klasik sampai Postmodernisme, (Yogyakarta : Ar-Ruz
media, 2001, hal. 289.
[5] K. Bertens,
Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 205 dan 207.
[6]
John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai
Postmodernitas, (Yogyakarta : Kanisius, 2001), hal. 270.
[14] Ali Mudhofir, Kamus
Filsuf barat (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), hal. 4.
[16] Simon Petrus L.
Tjahjadi, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan dari Descartes sampai Whitehead, (Yogyakarta
: Kanisius, 2007), hal. 102-114.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar