Kamis, 15 Januari 2015

PEMIKIRAN FILSAFAT THEODOR W. ADORNO


Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Barat Kontemporer
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Siti Nurlaili M., M.Hum.

Disusun oleh:
Eviyati Masrina     121121008


JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2014
PEMIKIRAN FILSAFAT THEODOR W. ADORNO
I.                   PENDAHULUAN
Theodor W. Adorno merupakan salah satu penganut Mazhab Frankfurt generasi pertama. Mazhab Frankfurt biasa disebut juga dengan neomarxisme atau ada juga yang menyebutnya sebagai teori kritis. Berawal dari marxisme yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan. Hal itu merupakan bentuk protes Marx terhadap kaum kapitalis yang sewenang-wenang mempekerjakan kaum proletar namun keuntungan hasil kerjanya di ambil oleh kaum kapitalis. Marx berkeinginan bahwa paham kapitalisme harus diganti dengan paham komunisme, yaitu paham yang ada di bidang politik yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan. Inilah dasar dari teori marxisme.
Kemudian muncullah teori kritis mazhab frankfurt. Teori kritis mazhab frankfurt adalah bentuk kritisi dari marxisme atau biasa disebut dengan lanjutan marxisme, tetapi dalam perkembangannya tetap tidak meninggalkan inti dari ajaran marxisme sendiri. Adapun inti dari teori kritis ini adalah ide dan pengetahuan harus bebas dan tidak boleh menjadi pokok ajaran yang memaksa dan harus menghasilkan suatu perubahan yang positif. Ketika suatu ilmu pengetahuan atau teori berhenti  pada dogma maka ia akan kehilangan fungsi kebebasannya sehingga sebatas menjadi pembenaran pada kondisi yang ada pada saat itu.


               



II.                PEMBAHASAN

A.    Sekilas Tentang Mazhab Frankfurt
Mazhab Frankfurt digunakan untuk menunjukkan sekelompok sarjana yang bekerja pada Institut fur Sozialforschung (Lembaga untuk Penelitian Sosial) di Frankfurt am Main. Lembaga ini didirikan pada tahun 1923 oleh Felix Weil, anak seorang pedagang gandum yang kaya raya dan sarjana dalam ilmu politik.[1] Institut Penelitian ini tidak mau bergantung pada Universitas Frankfurt, yang pada saat itu masih muda, walaupun anggotanya mengajar di Universitas Frankfurt tersebut. Kebanyakan anggotanya merasa simpati kepada marxisme.[2]
Mazhab Frankfurt beranggotakan cendekiawan-cendekiawan senasib-sepenanggungan yang mengalami remuk redamnya peradaban umat manusia di Eropa pada paruh pertama abad XX. Mereka gelisah, mereka cemas dan oleh karena itu merasa harus bertindak dengan cara mereka sendiri demi mempertanggungjawabkan karunia kecerdasan dan hati nurani yang mereka miliki. Latar belakang inilah yang menyatukan mereka ke dalam satu visi dan misi sekaligus aksi yang kemudian mengkristal menjadi sebuah mazhab.
Adapun tokoh penting dalam Mazhab Frankfurt disamping ada Theodor W. Adorno yang lain adalah Horkheimer, Marcuse, dan Habermas. Maka gerakan tersebut identik dengan gerakan Teori Kritis Karena mengkritisi pandangan-pandangan marxisme yang sempit.
Filsafat yang dipraktekkan di dalam Mazhab Frankfurt dikenal sebagai “teori kritis”. Kalau kita ingin menentukan kedudukan teori kritis dalam rangka sejarah filsafat, maka terutama tiga faktor harus dikemukakan : teori kritis secara khusus dipengaruhi oleh Hegel, Marx dan Freud. Yang dikenal agak umum ialah peranan filsafat Karl Marx dalam pemikiran para anggota Mazhab Frankfurt, sampai-sampai ajaran mereka tidak jarang ditunjukkan dengan nama “neomarxisme”.[3]
            Keterkaitan mazhab Frankfurt terhadap pemikiran Karl Marx disebabkan antara lain oleh ketidakpuasan mereka terhadap penggunaan teori-teori Marxisme oleh kebanyakan orang lain, yang mereka anggap merupakan pandangan sempit terhadap pandangan asli Karl Marx. Menurut mereka, pandangan sempit ini tidak mampu memberikan jawaban terhadap situasi mereka pada saat itu di Jerman.[4] 
B.     Biografi Theodor W. Adorno
Adorno lahir dengan nama Theodor Wiesengrund Adorno pada tahun 1903 di Frankfurt. Ayahnya Wiesengrund adalah seorang pedagang anggur keturunan Yahudi. Ibunya dikenal sebagai penyanyi terkenal sebelum ia menikah.[5] Menurut Martin Jay, ia menghapus Wiesengrund dari namanya karena dianggap agak berbau Yahudi. Pada saat berusia 15 tahun, antara tahun 1918 dan 1919 ia belajar dibawah asuhan Siegfried Kracauer di tingkat Gymnasium. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Gymnasium, ia masuk di universitas Frankfurt tempat ia belajar filsafat, sosiologi dan musik. Ia menerima gelar doktor filsafat pada tahun 1924. Pada tahun 1925, ia pergi ke wina untuk belajar komposisi dibawah bimbingan Alban Berg dan mulai menerbitkan beberapa artikel tentang musik.[6]
Pada waktu terjadi huru-hara di Jerman, dimana Partai Nazi yang dipimpin Adolf Hitler berusaha menghabiskan semua bangsa Yahudi yang berada di Jerman dengan cara membantai mereka. Maka Adorno yang notabene keturunan Yahudi dari garis ayahnya, bersama beberapa tokoh mazhab Frankfurt yang lain, diantaranya Max Horkheimer, Herbet Marcuse, dan Erich Fomm, memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat.
Kemudian pada tahun 1937, Adorno berkunjung ke New York dan memutuskan untuk menetap di sana dan berpisah dengan sahabat dekatnya (Benjamin) yang tetap tinggal di Eropa. Sejak saat itu komunikasi Adorno dengan Benjamin hanya sebatas melalui surat. Adorno mulai memfokuskan diri untuk aktif di sebuah Institut Penelitian Sosial di Columbia University dan selebihnya perhatiannya dicurahkan sebagai direktur musik pada sebuah proyek radio yang dipimpin oleh seorang sosiolog Austria, Paulus Lazarsfeld, di Universitas Princeton.[7]
Bersama Max Horkheimer, Adorno tampak menampilkan nada pesimistik terhadap akal budi zaman pencerahan dan hal itu ditulisnya dalam Dialectic of Enlightenment yang pertama kali terbit pada 1947.[8] Adapun karyanya yang paling masyhur dalam kalangan paling luas ialah The Authoritarian Personality (1950), yang ditulis oleh Adorno bekerja sama dengan Else Frenkel-Brunswik, Daniel J. Levinson, dan R. Nevitt Sanford. Studi tentang kepribadian otoriter ini dilatarbelakangi pengalamannya dengan fasisme di Eropa. Sebagai studi tentang psikologi sosial, buku ini mengaitkan dengan cara memuaskan gagasan-gagasan Mazhab Frankfurt dengan metode empiris yang lazim di Amerika Serikat. Mazhab Frankfurt ini lebih memberi perhatian besar kepada masalah otoritarianisme.[9]
Selain tinggal di New York, Adorno juga pernah tinggal di California dan kembali ke Jerman pada tahun 1949 setelah berlalunya huru-hara di Jerman yang cukup mencekam bagi bangsa Yahudi. Di Jerman ia mengambil posisi sebagai filosof di bagian departemen filosofi.[10] Pada tahun 1949 itu juga, Adorno mendirikan kembali Institut Penelitian Sosial bersama sahabatnya, Horkheimer dan serentak juga menjadi profesor di Universitas Frankfurt. Jika Horkheimer mencapai umur pensiun pada 1958, Adorno menggantikannya sebagai direktur Institut Penelitian Sosial di Frankfurt sampai saat kematiannya yaitu pada tahun 1969.[11]
Perlu diketahui bahwa Adorno ini merupakan pengarang yang produktif sekali, karena buku yang ia tulis mempunyai tema yang berbeda-beda.
Adapun karya-karya Adorno yang lain diantaranya :
1.      Philosophy der neuen Musik (1949) / Filsafat tentang musik modern
2.      Minima Moralia (1951) / Kemerosotan moral
3.      Prismen (1955) / Prisma-prisma
4.      Dissonanzen (1956) / Pengantar pada metakritik tentang teori pengenalan
5.      Einleitung zur Metakritik der Erkenntnistheorie (1956) / Pengantar pada metakritik tentang teori pengenalan
6.      Einleitung zur Musik Soziologie (1962) / Pengantar soaiologi musik
7.      Jargon der Eigentlichkeit (1964)  / Yargon otentisitas
8.      Negative Dialektik (1966) / Dialektika negatif
9.      Aufsatze zur Gesellschaftstheorie and Methodologie (1970) / Karangan-karangan tentang teoro sosial dan metodologi
10.  Ueber Walter Benjamin (1970) / mengenai Walter benjamin
Semua tulisan yang telah diterbitkan oleh Adorno sendiri, dikumpulkan dalam suatu edisi buku Theodor W. Adorno : Gesammelte Schriften, Suhrkamp, Frankfurt am Main, 20 jilid, 1973-1982. Seluruh warisan tertulis Adorno disimpan dalam “Arsip adorno” yang bermukim pada perpustakaan Universitas Frankfurt (naskah yang tidak pernah diselesaikan, teks kuliah, ceramah, wawancara, korespondensi, dan sebagainya) dan sedang diseleksi untuk diterbitkan.
C.    Pemikiran Filosofis Theodor W. Adorno
Tidak dapat diragukan lagi bahwa pemikir Jerman ini bergerak dalam wilayah ilmiah yang amat luas. Namanya menjadi tersohor dalam hubungan dengan filsafat, sosiologi, psikologi maupun musikologi. Dan terus menerus ia menerobos tapal batas antara ilmu-ilmu itu.[12]
Salah satu ciri yang menonjol dalam pandangan filosofisnya adalah penolakannya terhadap pemikiran sistematis.[13] Hal ini berasal dari keberatannya terhadap berpikir metodologis. Filsafat sistematis dan pemikiran metodologis, menurutnya memiliki kecenderungan untuk sampai pada kesimpulan yang hanya mengkonfirmasi asumsi yang terkandung dalam premis-premisnya.
·         Emansipasi dan rasionalitas.
Adorno ingin mempertahankan ide dasar Aufklarung, yaitu emansipasi dengan menambah jalan rasionalitas.[14] Hanya dengan kritik radikal atas pemikiran masa Pencerahan yang berkisar pada paham “kemajuan”, dapat ditentukan arti rasionalitas bagi zaman kita ini. Dengan kata lain, hanya dengan mencari sebab-sebab gagalnya emansipasi yang begitu dicita-citakan oleh teori-teori kemajuan dalam masa Pencerahan dan sesudahnya, dapat kita buka perspektif baru bagi zaman kita sekarang.[15]
“Dialektika Pencerahan” adalah judul sebuah buku karya terkenal dari Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno yang ditulis bersama pada tahun 1944. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul “Dialektik der Aufklarung” dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “Dialectic of Enlightenment”. Secara umum isi buku tersebut bermuatan kritik terhadap modernitas yang dipandang oleh Adorno dan Horkheimer sebagai sejarah dominasi atau penguasaan. Pemikiran mereka secara umum senada dengan kritik Karl Marx, adapun yang membedakan adalah bahwa Adorno dan Horkheimer tidak menjelaskan sejarah penguasaan dari hubungan produksi, melainkan dari dorongan psikologis manusia yang berkeinginan kuat untuk menguasai pihak lain. Melalui Dialektika Pencerahan tersebut Adorno dan Horkheimer lebih jauh mengkritik kesadaran yang ada pada masyarakat itu sendiri dengan kesadaran modern, yang dengannya bahwa rasio sebagai alat utama dominasi. Lebih lanjut, Adorno dan Horkheimer juga beranggapan bahwa pencerahan yang dipandang sebagai kemajuan dari cara pandang mitologis, sebenarnya telah menjadi mitos itu sendiri. Lebih jauh, mitos itu pada gilirannya juga menghasilkan penindasan dan penguasaan manusia yang satu terhadap yang lainnya. Kenyataan terjadinya penindasan tersebut, antara lain sebagaimana yang dialami Adorno sendiri, yaitu dengan munculnya ideologi fasisme di Jerman, disamping juga kepincangan-kepincangan yang diakibatkan dari kemajuan teknologi yang telah memanupulasi manusia, pada umumnya.[16]
·         Kemajuan sebagai teori dialektis.
Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia semakin mendalam dari cengkeraman alam.
Kemajuan sepanjang sejarah merupakan suatu emansipasi. Namun kemajuan tidak dapat dipikirkan terlepas dari kemundurannya. Sebab, kemajuan tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang ditiadakan atau dihancurkan yaitu alam dari mana manusia membebaskan diri. Maka dari itu suatu teori tentang kemajuan hanya mungkin sebagai teori dialektis, artinya kemajuan hanya dimengerti sejauh kemunduran turut dimengerti. Inti dialektis adalah penguasaan.[17]

·         Negativitas total.
Adorno menyamakan prinsip penguasaan dengan prinsip rasionalitas. Dengan rasionalitasnya manusia menaklukkan bumi kepadanya. Hal ini dinamakan Adorno sebagai teknologi.  Yang paling penting bagi Adorno ialah dengan menaklukkan alam kepadanya manusia belum masuk dalam kebebasannya.
Namun, manusia ingin membebaskan diri dengan menguasai alam, pada zaman sekarang ini menjadi obyek penguasaan itu. Daripada menghasilkan emansipasi manusia, ilmu pengetahuan dan teknik (atau dengan perkataan lain, seluruh proses penguasaan alam) membuat manusia menjadi obyek. Manusia sebagai subyek yang menguasai, menjadi obyek penguasaannya sendiri. Ia yang ingin membebaskan dirinya sendiri, pada kenyatannya diperbudak saja. Keadaan inilah yang disebut sebagai “negativitas total”.[18]
·         Sejarah ditandai dengan malapetaka permanen.
Adorno beranggapan bahwa sejarah ditandai oleh suatu “malapetaka permanen” (a permanent catastrophe). Hal ini harus mempunyai dasarnya dalam awal-mula sejarah. Pada permulaan sejarah sebagai malapetaka permanen terdapat suatu tindakan irrasional, yaitu kemampuan untuk menguasai alam secara total. Tetapi jika permulaan sejarah, dan dengan itu juga seluruh sejarah selanjutnya bersifat irrasional, maka dapat ditarik kesimpulan pula bahwa sejarah tidak mutlak perlu harus berlangsung seperti adanya (melawan Hegel). Adorno mengakui kemungkinan utopi, artinya kemungkinan timbulnya suatu masyarakat yang sama sekali lain daripada yang kita kenal dalam sejarah konkret. Tetapi serentak juga ia merasa pesimistis terhadap kemungkinan untuk sekarang ini merealisasikan suatu masyarakat yang benar. Untuk saat ini Adorno hanya melihat kemungkinan untuk membiarkan pikiran akan masyarakat benar menjadi matang dalam teori (teori tentang negativitas total).[19]
·         Penderitaan mendobrak penguasaan total.
Rasio sendiri tidak dapat memecahkan belenggu yang mengikatkan rasionalitas yang terbelenggu. Namun demikian, sudah nyata suatu kritik radikal hanya mungkin berdasarkan rasionalitas (yang terbelenggu itu). Cara mendobrak penguasaan total itu menurut Adorno hal itu hanya mungkin berdasarkan pengalaman tentang pederitaan. Penderitaan meloloskan diri dari penguasaan total dan akibatnya dapat menyadarkan serta mengatasi negativitas total. Adorno melukiskan penderitaan sebagai obyektifitas yang menekan subyektifitas. Maksudnya bahwa penderitaan merupakan sustu hal yang bersifat subyektif (menyangkut subyek sebagai subyek), tetapi serentak juga melebihi subyek, karena disebabkan oleh fakta-fakta obyektif.[20]
Kebebasan filsafat, menurut Adorno tidak lain daripada kesanggupan untuk memberi suara kepada ketidakbebasan. Kiranya sudah jelas bahwa filsafat Adorno bersifat pesimistis.







III.             KESIMPULAN
            Theodor W. Adorno adalah seorang filsuf, sosiolog, musikolog dan komponis. Ia dilahirkan di kota Frankfurt, Jerman. Adorno merupakan salah satu dari tokoh penting dalam Mazhab Frankfurt. Mazhab Frankfurt yang terkenal dengan “Teori Kritis” nya, dia bersama Max Horkheimer menulis buku “Dialektika Pencerahan” yang cukup spektakuler. Isi buku tersebut yaitu tentang kritik terhadap modernitas, yang dipandang oleh Adorno sebagai kendaraan bagi dominasi dan penguasaan. Disamping itu, Adorno juga mengkritik kesadaran yang ada pada masyarakat itu sendiri yang terbelenggu dengan pemahaman tentang kemoderenan dan mengakibatkan harkat kemanusiaan terpuruk dalam posisi sebagai obyek bukan sebagai subyek. Keterpurukan tersebut menunjukkan bahwa manusia kehilangan individualitasnya, demikian juga masyarakat kehilangan kemanusiaannya dan kemasyarakatannya.
Melalui teori kritisnya, perjuangan Adorno beserta kawan-kawannya telah memberikan pencerahan dengan kebijakan yang kritis atas seluruh fenomena kemoderenan. Salah satu maksud praktis dari Teori Kritis adalah membantu proses refleksi diri masyarakat atas proses pembentukan diri masyarakat itu. Proses rasionalitas adalah proses menuju otonomi dan kedewasaan. Teori Kritis mengkritisi modernitas ketika mereka mau mengabsolutkan rasio instrumental dalam bentuk kekuasaan dan kemakmuran ekonomis.





IV.             DAFTAR PUSTAKA
Maksum, Ali, Pengantar Filsafat dari Masa Klasik hingga Postmodernisme, (Yogyakarta : Ar-Ruz media, 2011.
Mudhofir, Ali, Kamus Filsuf barat (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001).
Lechte, John, 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, (Yogyakarta : Kanisius, 2001).
Bertens, K, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2002).
Tjahjadi, Simon Petrus L, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan dari Descartes sampai Whitehead, (Yogyakarta : Kanisius, 2007).




[1] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hal. 194.
[2][2] Ibid., hal. 195.
[3] Ibid., hal. 196.
[4] Ali Maksum., Pengantar Filsafat dari Masa Klasik sampai Postmodernisme, (Yogyakarta : Ar-Ruz media, 2001, hal. 289.
[5] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 205 dan 207.
[6] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, (Yogyakarta : Kanisius, 2001), hal. 270.
[7] http://www.basyirbaick.com/theodor-adorno-pemikirannya-dalam-dunia-filsafat.html
[8] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme sampai Postmodernitas, hal. 270.
[9] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 207-208.
[11] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 208.
[12] Ibid., hal. 209.
[13] Ibid., hal. 209.
[14] Ali Mudhofir, Kamus Filsuf barat (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001), hal. 4.
[15] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 210.
[16] Simon Petrus L. Tjahjadi, Tuhan para Filsuf dan Ilmuwan dari Descartes sampai Whitehead, (Yogyakarta : Kanisius, 2007), hal. 102-114.
[17] Ali Mudhofir, Kamus Filsuf barat, hal. 5.
[18] K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman, hal. 210-211.
[19] Ibid., hal. 212.
[20] Ibid., hal. 212-213.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar