Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kajian Naskah dan Khazanah Jawa
Dosen Pengampu : Dr. Islah, M.Ag.
Disusun oleh:
Eviyati Masrina 121121008
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2014
SULUK SYEKH MALAYA
I.
PENDAHULUAN
Suluk menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti Jalan ke arah
kesempurnaan batin, tasawuf, tarekat, atau mistik.[1] Suluk
juga dapat diartikan sebagai menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah.
Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam
melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus
aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat).[2] Sedangkan
Syekh Malaya merupakan julukan atau nama lain dari Sunan Kalijaga. Jadi, Suluk
Syekh Malaya merupakan jalan yang ditempuh Sunan Kalijaga untuk menuju
kesempurnaan batin, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran mistik dan juga
tasawuf.
Ketika masa mudanya, Raden Syahid terkenal sebagai orang yang sangat
nakal. Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan. Ia berjudi kemana-mana.
Namun, selain itu digambarkan Raden Syahid sebagai seorang yang sangat sakti.
Karena saktinya, beliau dijuluki sebagai brandal Lokajaya.
Mengenai jalan hidup Sunan Kalijaga ini, banyak naskah kuno yang
menceritakan tentang jalan hidup Sunan Kalijaga, termasuk salah satunya yaitu suluk Syekh Malaya. Di dalam suluk Syekh
Malaya ini akan diterangkan tentang riwayat hidup raden Syahid ketika masih mudanya
yang diuji oleh Sunan Bonang (sebelum menjadi wali) dan setelah ia menjadi wali
yang terkenal di pulau Jawa.[3]
Dalam kehidupan tasawuf, jika seseorang ingin menyempurnakan
dirinya harus melalui beberapa tahapan spiritual, di mana tahap paling awal
adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai sebuah kebiasaan atau
kedisiplinan. Syariat dimaksudkan untuk membawa seseorang ke dalam sebuah bangunan
persaudaraan berdasarkan kepercayaan.
Untuk berkomitmen itu dibutuhkan waktu yang sebentar, namun untuk
menjalankannya itu seumur hidup. Seperti diceritakan di dalam suluk Syekh
Malaya ini, bahwa strategi itu penting untuk menciptakan keyakinan. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita, khususnya bagi pembaca.
II.
PEMBAHASAN
Sunan Kali adalah panggilan pendek dari Sunan Kalijaga. Nama
kecilnya adalah Raden Syahid. Ia merupakan anggota walisanga yang sangat
populer di pulau Jawa. Namun, tak banyak orang yang mengetahui ajarannya.
Umumnya, orang mengenal ajarannya lewat kidung atau tembang.[4]
Diduga bahwa versi Cina lah yang menyebut bahwa waktu kecil Raden
Syahid juga bernama Syekh Malaya karena dia adalah putera Tumenggung
Melayakusuma di Jepara.[5]
Dia juga dikenal sebagai Syeikh Malaya karena pernah menjadi juru dakwah di
wilayah Malaya.
Dalam khazanah makrifat Jawa, gelar Syeikh “Malaya” itu berasal
dari Jawa. Kata Malaya itu berasal dari “ma-laya” yang berarti mematikan diri.
Dia telah mengalami “mati sajeroning urip”, merasakan mati dalam hidup
ini. Dengan menghayati kematian dalam hidup seseorang akan mengetahui hakikat hidup.
Tanpa merasakan kematian dalam hidup, kita hanya bisa mencicipi kulit alam
semesta ini.[6]
Ia adalah putera seorang adipati Tuban (Jawa Timur) Tumenggung
Wilatika. Kadipaten Tuban saat itu dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Ketika
Raden syahid lahir di bumi Tuban, keadaan Majapahit mulai surut. Lebih-lebih
ketika Tuban dilanda musim kemarau panjang, gelora jiwa Raden Syahid tak
tertahan. Namun sang ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanyalah seorang raja
bawahan.[7]
Melihat kondisi yang seperti itu, akhirnya Raden Syahid memilih menjadi maling
cluring.[8]
Memang terdapat dua versi yang menyatakan bahwa Raden Syahid ini
sangat nakal disaat mudanya. Pertama, menurut buku yang ditulis oleh
Achmad Chodjim yang berjudul Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat,
menyatakan bahwa Raden Syahid adalah seorang pencuri dan perampok, namun hasil
dari curian dan rampokan tersebut dibagikan kepada orang-orang miskin. Hal
demikian yang akhirnya beliau mendapat julukan maling cluring tersebut.
Mula-mula ia
bongkar gudang kadipaten, ambil bahan makanan, lalu membagi-bagikannya kepada
orang-orang yang membutuhkannya dengan cara diam-diam.[9] Kedua,
mengatakan bahwa Raden Syahid ini memeng keterlaluan nakalnya. Berkelana
dihutan siang malam. Berjudi terus siang malam. Wanita kanan kiri diganggunya.
Dan apabila ia kalah berjudi, ia menghadang orang dijalan untuk dirampok
hartanya. Sang ayah pusing dan sangat marah melihat kelakuan putranya. “Kamu
kurang ajar sekali. Matipun saya tidak menyesal. Lebih baik kamu segara dicabut
nyawanya, di dunia hanya membuat malu orang tua, sebelum lebih banyak dosamu”.[10]
Menurut Ricklefs
(1998:14), setiap setelah menderita kekalahan dalam suatu perjudian, Raden
Syahid lalu menjadi seorang perampok jalanan di pesisir utara. Suatu hari Sunan
Bonang lewat di daerah itu dan Raden Syahid menyapanya. Tetapi Sunan bonang
memberi tahu bahwa tak lama lagi akan ada orang lewat yang berpakaian serba
biru dan memakai bunga sepatu warna merah di belakang kepalanya. Tidak seperti
dirinya, orang tersebut memiliki banyak harta dan layak untuk dirampok. Setelah
menunggu tiga hari, orang yang disebutkan Sunan Bonang tersebut benar-banar
lewat. Namun ketika Syahid akan merampoknya, orang tersebut yang tidak lain
adalah penyamaran Sunan Bonang sendiri, merubah dirinya menjadi empat orang.
Hati Raden Syahid terguncang melihatnya, lalu sadar akan perbuatan buruknya.
Sejak itu Raden Syahid menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Dari
sinilah Raden Syahid menjadi pemuka agama dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.[11]
Ia menjalani
kehidupan sebagai seorang pertapa dan berusaha menjalankan apa petunjuk gurunya
yaitu sunan Bonang. Seperti yang diceritakan di dalam suluk Linglung bahwa
sunan Kalijaga lebih banyak disuruh bertapa oleh sunan Bonang. Namun dengan
pertapaan yang sangat lama itu ternyata syekh Malaya pun belum merasa cukup
karena ia masih belum mengerti tentang hidayah iman. Sampai-sampai syekh Malaya
disuruh untuk pergi ke hutan belantara dan hidup dengan kidang selama setahun
dan tidak boleh ketahuan manusia.
Selama menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa yang berusaha
menjalankan sekaligus mengindahkan petunjuk gurunya yaitu Sunan Bonang, Sunan
Kalijaga tidak terlepas dari sosok yang bernama Nabi Khidir. Di tengah
perjalanan spiritualnya, ia dipertemukan oleh Nabi Khidir.
Banyak nasihat dan wejangan yang diberikan Nabi Khidir kepada Sunan
Kalijaga, salah satunya yaitu :
“Apabila kamu
tidak tahu Allah, bergurulah kepada orang yang tahu. Bila telah tahu tentang Allah,
mengabdilah sebagai hamba-Nya. Sembahmu tidak perlu dengan pikiran, selalu
ingat kepada Yang Maha Tahu baik siang maupun malam. Seluruh malaikat melihat
bahwa kamu telah digariskan sebagai pengganti Yang Agung”.[12]
Allahlah
namanya yang hidup. Yang hidup itu ruh. Hidupnya ruh disebut makrifat. Hidup
itu adalah hidupnya Yang Widi. Apabila kamu ruh yang menjadi satu dengan badan.
Melihat tidak dengan kedua mata kepala, mendengar tanpa telinga dan berkata tanpa
lidah. Tahu badan kamu ini, tidak tahu yang Maha Menciptakan. Dalam
meninggalnya besok akan sesat, karena kamu tidak tahu badan ini. Padahal kamu
diasuh oleh Yang Agung.
Sungguh Maha
Lebih Allah, bisa masuk pada yang keras, bisa keluar sekehendak-Nya, melebih
dan merata adanya Allah. Seluruh yang ada diketahui-Nya. Tidak menyuruh dan
tidak melarang atas kehendak orang. Bila orang senang berbuat baik, dia akan
memperoleh hasilnya. Baik buruk datang dari dirimu, bukan dari Allah. Apabila
manusia telah bulat tekadnya, dia akan dapatkan walau tinggal satu yang
terakhir. Bila bukan takdirnya, tidak akan mendapat wahyu.[13]
Kepada yang
Maha Mulia manunggalnya hamba dengan Allah, bila kamu berkehendak menyatakan
kepada yang menguasai segalanya, yang memberi hidup kepada segalanya. Seluruh
rakyat yang mukmin disebut Ruh Idhafi. Raja Ruh Idhafi disebut sifat jamal.
Sifat jamal itu indah, demikianlah yang sejati, pemakaiannya di dalam batin.
Yang menguasai ini di sebut Zat Kekal Maha Mulia.[14]
Ruh Idhafi
merupakan penghubung antara Jiwa dengan Tuhannya. Ruh ini bisa juga disebut
dengan sukma. Dalam Suluk Linglung, ruh idhafi bisa disebut sebagai ruh yang
selalu pasrah pada Dzat Allah. Ruh ini memancarkan cahaya yang berkilauan,
terang benderang dan tak berwarna. Pancaran sinar ruh ini yang berkilauan
disebut Premana. Adanya premana ini menyebabkan badan menjadi hidup.
Menyebabkan jiwa manusia bisa aktif dan mengaktifkan badan jasmani. Dalam
khazanah Jawa, Premana juga disamakan dengan nyawa.[15]
Seluruhnya akan
kembali kepada yang menitipkan, kembali dalam ketiadaan. Tidak ada wujud ini.
Syekh Malaya terang benderang pikirannya. Ketika mendengar wejangan Nabi
tentang kebatinan dia sangat terpikat. Dia berkata dengan menyembah, “Hamba
Mengikuti”.
Hidupmu di
dunia sama dengan kerbau sapi, tidak berguna dalam hidup, hanya membuat banyak
isi dunia saja. Camkan dengan sungguh-sungguh, wejanganku ini! Segala
perlengkapanmu ini besok tidak urung akan kembali ke bumi. Bila tidak tahu hal
yang semestinya, pada akhirnya meninggalnya kesasar.[16]
Selanjutnya
berbicara mengenai ilmu kesempurnaan. Ilmu itu bagaikan benih yang jika tumbuh
akan menghasilkan tanaman dan tentu saja hasil panen berupa buah atau
biji-bijian. Namun agar bisa tumbuh dan menghasilkan, maka biji itu harus
ditanam pada lahan yang ada tanahnya. Bukan di atas batu. Batu ibarat duniawi,
sedangkan tanah adalah kekosongan hati dari dunia.
Jika di atas batu
itu ada tanah tetapi jumlahnya hanya sedikit maka benih itu bisa tumbuh namun
akan kerdil dan tidak berbuah. Sama halnya jika dalam hati itu sudah ada ruang
untuk Tuhan, namun hanya sedikit saja, kebanyakan malah diisi untuk dunia, maka
orang tersebut hanya akan mendapatkan sedikit saja manfaat dari ilmu ini.
Sebaiknya memang memberikan ruang yang lebih banyak untuk ketuhanan supaya ilmu
kesempurnaan ini bisa diterima oleh hati dan akhirnya bisa memberikan manfaat
bagi kehidupan dirinya.[17]
Berikut nasehat Nabi Khidir tentang ilmu kesempurnaan :
Sukarlah orang
yang mempertanyakan ilmu kesempurnaan ini, karena jalannya sangat rumit dan
sulit. Cara agar sampai pada tempat asalnya, kamu jangan tenggelam kepada
kepuasan duniawi, waspadalah. Ibarat kamu bepergian tidak lama dalam tempat
tujuan itu. Ingatlah, hidup di dunia anakku, supaya tenteram hatimu. Di dunia
ini bergurulah, karena dengan berguru lebih beruntung. Prihatinmu akan membuat
hatimu tenteram. Semua suka, mulia, orang yang taat kepada guru. Ibarat
bangunan yang sangat indah tidak ada celanya sampai sekecil-kecilnya.[18]
Manusia yang
berbakti kepada Allah, akan mendapatkan jalan dengan pintu yang terbuka. Ibarat
masjid yang indah dengan pintu yang bisa membuka dan menutup sendiri. Bila
pintu membuka, kelihatan bersinar bagaikan bulan purnama penuh. Terkena sinar
bulan, dilihat bersinar menyala seperti
bara sinar dalam asmara. Bila dilihat lagi, keadaan itu tidak berubah,
tetap bersinar.
Yang
kusampaikan ini anakku, tentang ilmu sufi. Yang dilihat selalu badan sendiri.
Seperti orang tidur. Dalam hidup sewaktu tidur akan merasa nikmat. Dalam tidur
asal mulamu dahulu akan kelihatan. Hal itu tidak berbeda dengan hidup dan mati.
Semua manusia
memiliki ilmu yang sejati, sebagian ilmu
yang dimilikinya hanya semacam perhiasan saja tidak ada berkahnya. Itulah dalam
hal laku, tidak selamat bila tidak mengetahui. Akhirnya menjadi berhala.
Bila kamu
sakit, anakku, jangan berhenti dalam berdzikir anakku. Awaslah terhadap wujud
dirimu. Ingatlah jalanku yaitu tentang hal kematian. Hendaknya kamu mengetahui
yang membuat hidup. Jangan tenggelam dalam hidup, jangan suka keduniawian,
ingat bahwa tidak urung akan mati. Jangan menyia-nyiakan hidup di dunia.
Tinggilah orang
yang dikasih kemuliaan, kemuliaan datang dari prihatin. Rendah hati itu syarat
menuai kebajikan. Yang dapat merasakan ilmu karena laku prihatin. Tidak
bermewah-mewah, rendah hati dalam bersikap. Bagaikan orang menuai padi pasti
akan mendapatkan bagian upah dari pekerjaannya itu.[19]
Maksud
mengalirnya madu adalah orang yang diberi kemuliaan oleh suksma. Dia tetap
kokoh dalam budi. Arti menjalankan tapa adalah menyakiti badan dari waktu muda
sampai tua, masuk hutan yang sunyi, masuk gua bersemedi ditempat yang sepi,
membunuh jiwa raga. Yang telah mendapat hidayah ilahi karena menjalankan tapa.
Akhirnya dia akan mendapatkan upah jerih payahnya. Orang yang suka makan dan
tidur, yang selama hidup tidak mau mengurangi, walaupun dia berilmu, ia akan
mengalami kesukaran. Berbeda dengan orang prihatin, cita-citanya akan tercapai.
Yang terutama
manusia hidup ini hendaklah setiap hari berniat bertapa selamanya jangan
berhenti. Setiap malam berniat berjaga. Setiap hari selama hidup berniat
berpuasa. Yang demikian akan dikasihi Allah.[20]
Sunan Kalijaga
menerima dan melaksanakan dengan baik wejangan-wejangan itu, hingga akhirnya
beliau dianggap lolos lalu diangkatlah Sunan Kalijaga sebagai waliyullah dan
menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Berbicara mengenai Ki Ageng Pandhan Aran menarik juga. Diceritakan
bahwa Ki Ageng Pandhan Aran merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga. Suatu
hari, Ki Ageng Pandhan Aran mempunyai hajat, dia mengadakan pesta besar.
Seluruh raja diberitahu, para pembesar diundang. Mereka dihormati dengan
tabuhan gamelan yang indah. Waktu itu sunan Kali datang dengan pakaian
compang-camping. Seketika itu gamelan tidak berbunyi, tidak ada yang menyambut.
Lalu dia pergi pelan-pelan dan datang lagi dengan memakai pakian melebihi
orang-orang dalam pertemuan. Dia disambut dengan gamelan yang indah, seluruh
tamu memberi hormat. Sunan Kali berpikir dalam hati, “Yang demikian ini berarti
yang dianggap saudara hanya yang kaya saja”.
Pakaianlah yang dihargai, bukan orangnya. “Segala pakaian
kerajaanku ini saya relakan untukmu. Saya hendak melanjutkan niatku. Silahkan
bersama-sama kamu lanjutkan hajatmu itu.”. Lalu Ki Ageng Pandhan Aran bersujud
kepada Sunan Kalijaga menyerahkan hidup dan mati. Sunan Kali berkata, “Hai
anakku, apakah kamu telah mantap berserah kepadaku?” Ki Ageng berkata, “Ya
terserah, hamba bunuhlah”.[21]
Sunan Kali berkata pelan, “Ki Ageng Pandhan Aran, apakah rela istrimu
yang paling cantik juga saya minta”, “Silahkan kehendak sang Yogi”. Segera para
isteri dipanggil dihadapan sang guru. Sunan Kali berkata, “Hai Ki Ageng, saya
bermaksud ingin melihat keadaan isterimu. Segeralah kamu persiapkan tempat
tidur dan permaisurimu akan aku ajak tidur. Anakku kamu jangan pergi, jagalah
tidurku bersama istrimu ini.[22]
Ki Ageng diuji apakah dia menyesal terhadap apa yang telah ditempuh menjadi
kehendaknya.
Saat terbit fajar,
Sunan Kali berkata, “Kamu telah diterima oleh Allah menjadi paku jagad.
Segeralah kamu pergi ke bukit Bayat, menjadi waliyullah di Gunung Jabalkat.
Tetapi jangan membawa harta, menyusahkan dan mengotori hati dan hanya menjadi
berhala. Apabila kamu manunggal dengan Allah Yang Menguasi alam, jangan suka
dunia. Ingatlah ciptaan itu cepat rusak dan tidak kekal. Itu nasihatku.
Laksanakan nasihatku dan jangan ragu, jangan menoleh ke belakang”.
III.
KESIMPULAN
Di dalam Suluk Syekh Malaya, Sunan Kalijaga sangat menekankan
pentingnya menjalankan syari'at Islam, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah
saw, termasuk sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan
melaksanakan ibadah haji. Seseorang harus melalui berbagai tirakat dan
perenungan yang sugguh-sungguh untuk dapat menjalankan ajaran Islam secara
kaffah (sempurna). Dengan begitulah manusia akan dapat mengerti makna kehidupan
yang sejati dan mencapai makrifat.
Banyak pelajaran yang dapat
kita ambil dari kisah sunan kalijaga dalam suluk Syekh malaya ini,
diantaranya Dalam menjalani segala sesuatu itu hendaknya tujuannya hanya satu
yaitu Allah, seperti ketika kita menjalankan ibadah haji, apa tujuan dari
ibadah haji? Apa tujuan dari kita lari-lari kecil dari bukit shofa ke marwah?
Sebenarnya itu menggambarkan bahwa segala sesuatu itu porosnya hanya satu yaitu
Allah. Serta apa tujuan kita melempar jumroh? Itu berarti bahwa kita harus
melawan syaitan termasuk diri kita sendiri, dan lain sebagainya. Ketika kita
belum mengetahui tentang sesuatu, maka kita wajib berguru kepada orang yang
lebih tahu. Artinya kita wajib untuk berguru. Jangan terlalu memikirkan dunia
atau terhanyut dalam kehidupan dunia,
karena dunia hanya memperbudak kita dan dunia itu hanya bersifat
sementara, pada akhirnya kita akan kembali pada sang Pencipta, jadi fikirkanlah
tentang akhirat. Boleh punya harta namun jangan dimasukkan ke dalam hati. Untuk
menuju kepada hakikat kehidupan yang sebenarnya, kita harus menjalani proses
pertapaan, karena dalam pertapaan akan menjauhkan kita dari cinta dunia serta
mengajari kita untuk prihatin. Dengan itu, kita akan lebih mudah mencapai ilmu
kesempurnaan.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
AW, Yudhi, Serat Dewaruci, (Yogyakarta : Narasi, 2012).
Chodjim, Achmad, Sunan
Kalijaga : Mistik dan Makrifat, (Jakarta : Serambi, 2013).
Dwiyanto, Djoko, Serat pustoko Rojo Purwo, (Yogyakarta :
Pura Pustaka, 2006).
Poerwadarminta,
W. J. S, Kamus Umum Bahasa Indonesia (edisi ketiga), (Jakarta : Balai
Pustaka, 2007).
Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga, (Yogyakarta : Pustaka
pelajar, 2007).
Simon, Hasanu, Misteri Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2008).
http://id.wikipedia.org/wiki/Suluk.
[1] W.J.S.
Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (edisi ketiga), (Jakarta :
Balai Pustaka, 2007), h. 1156.
[3]
Djoko Dwiyanto,
Serat pustoko Rojo Purwo, (Yogyakarta : Pura Pustaka, 2006), h. 43.
[4]
Achmad Chodjim,
Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat, (jakarta : Serambi, 2013), h. 7.
[5]
Hasanu Simon, Misteri
Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), hal. 283.
[9]
Achmad Chodjim,
Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat, h. 9.
[11]
Hasanu Simon, Misteri
Syekh Siti Jenar, h. 282-283.
[17]
Yudhi AW, Serat
Dewaruci, (Yogyakarta : Narasi, 2012), h.182.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar