Kamis, 15 Januari 2015

SULUK SYEKH MALAYA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Kajian Naskah dan Khazanah Jawa
Dosen Pengampu : Dr. Islah, M.Ag.

Disusun oleh:
Eviyati Masrina     121121008



JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2014

SULUK SYEKH MALAYA
I.                   PENDAHULUAN
            Suluk menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti Jalan ke arah kesempurnaan batin, tasawuf, tarekat, atau mistik.[1] Suluk juga dapat diartikan sebagai menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat).[2] Sedangkan Syekh Malaya merupakan julukan atau nama lain dari Sunan Kalijaga. Jadi, Suluk Syekh Malaya merupakan jalan yang ditempuh Sunan Kalijaga untuk menuju kesempurnaan batin, yang di dalamnya terdapat ajaran-ajaran mistik dan juga tasawuf.
Ketika masa mudanya, Raden Syahid terkenal sebagai orang yang sangat nakal. Ia suka merampok dan membunuh tanpa segan. Ia berjudi kemana-mana. Namun, selain itu digambarkan Raden Syahid sebagai seorang yang sangat sakti. Karena saktinya, beliau dijuluki sebagai brandal Lokajaya.
Mengenai jalan hidup Sunan Kalijaga ini, banyak naskah kuno yang menceritakan tentang jalan hidup Sunan Kalijaga, termasuk salah satunya  yaitu suluk Syekh Malaya. Di dalam suluk Syekh Malaya ini akan diterangkan tentang riwayat hidup raden Syahid ketika masih mudanya yang diuji oleh Sunan Bonang (sebelum menjadi wali) dan setelah ia menjadi wali yang terkenal di pulau Jawa.[3]
Dalam kehidupan tasawuf, jika seseorang ingin menyempurnakan dirinya harus melalui beberapa tahapan spiritual, di mana tahap paling awal adalah syari'at, yaitu tahap pelatihan badan agar dicapai sebuah kebiasaan atau kedisiplinan. Syariat dimaksudkan untuk membawa  seseorang ke dalam sebuah bangunan persaudaraan berdasarkan kepercayaan.
Untuk berkomitmen itu dibutuhkan waktu yang sebentar, namun untuk menjalankannya itu seumur hidup. Seperti diceritakan di dalam suluk Syekh Malaya ini, bahwa strategi itu penting untuk menciptakan keyakinan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita, khususnya bagi pembaca.

II.                PEMBAHASAN
Sunan Kali adalah panggilan pendek dari Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Syahid. Ia merupakan anggota walisanga yang sangat populer di pulau Jawa. Namun, tak banyak orang yang mengetahui ajarannya. Umumnya, orang mengenal ajarannya lewat kidung atau tembang.[4]
Diduga bahwa versi Cina lah yang menyebut bahwa waktu kecil Raden Syahid juga bernama Syekh Malaya karena dia adalah putera Tumenggung Melayakusuma di Jepara.[5] Dia juga dikenal sebagai Syeikh Malaya karena pernah menjadi juru dakwah di wilayah Malaya.
Dalam khazanah makrifat Jawa, gelar Syeikh “Malaya” itu berasal dari Jawa. Kata Malaya itu berasal dari “ma-laya” yang berarti mematikan diri. Dia telah mengalami “mati sajeroning urip”, merasakan mati dalam hidup ini. Dengan menghayati kematian dalam hidup seseorang akan mengetahui hakikat hidup. Tanpa merasakan kematian dalam hidup, kita hanya bisa mencicipi kulit alam semesta ini.[6]
Ia adalah putera seorang adipati Tuban (Jawa Timur) Tumenggung Wilatika. Kadipaten Tuban saat itu dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Ketika Raden syahid lahir di bumi Tuban, keadaan Majapahit mulai surut. Lebih-lebih ketika Tuban dilanda musim kemarau panjang, gelora jiwa Raden Syahid tak tertahan. Namun sang ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanyalah seorang raja bawahan.[7] Melihat kondisi yang seperti itu, akhirnya Raden Syahid memilih menjadi maling cluring.[8]
Memang terdapat dua versi yang menyatakan bahwa Raden Syahid ini sangat nakal disaat mudanya. Pertama, menurut buku yang ditulis oleh Achmad Chodjim yang berjudul Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat, menyatakan bahwa Raden Syahid adalah seorang pencuri dan perampok, namun hasil dari curian dan rampokan tersebut dibagikan kepada orang-orang miskin. Hal demikian yang akhirnya beliau mendapat julukan maling cluring tersebut.
            Mula-mula ia bongkar gudang kadipaten, ambil bahan makanan, lalu membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membutuhkannya dengan cara diam-diam.[9] Kedua, mengatakan bahwa Raden Syahid ini memeng keterlaluan nakalnya. Berkelana dihutan siang malam. Berjudi terus siang malam. Wanita kanan kiri diganggunya. Dan apabila ia kalah berjudi, ia menghadang orang dijalan untuk dirampok hartanya. Sang ayah pusing dan sangat marah melihat kelakuan putranya. “Kamu kurang ajar sekali. Matipun saya tidak menyesal. Lebih baik kamu segara dicabut nyawanya, di dunia hanya membuat malu orang tua, sebelum lebih banyak dosamu”.[10]
            Menurut Ricklefs (1998:14), setiap setelah menderita kekalahan dalam suatu perjudian, Raden Syahid lalu menjadi seorang perampok jalanan di pesisir utara. Suatu hari Sunan Bonang lewat di daerah itu dan Raden Syahid menyapanya. Tetapi Sunan bonang memberi tahu bahwa tak lama lagi akan ada orang lewat yang berpakaian serba biru dan memakai bunga sepatu warna merah di belakang kepalanya. Tidak seperti dirinya, orang tersebut memiliki banyak harta dan layak untuk dirampok. Setelah menunggu tiga hari, orang yang disebutkan Sunan Bonang tersebut benar-banar lewat. Namun ketika Syahid akan merampoknya, orang tersebut yang tidak lain adalah penyamaran Sunan Bonang sendiri, merubah dirinya menjadi empat orang. Hati Raden Syahid terguncang melihatnya, lalu sadar akan perbuatan buruknya. Sejak itu Raden Syahid menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa. Dari sinilah Raden Syahid menjadi pemuka agama dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.[11]  
            Ia menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa dan berusaha menjalankan apa petunjuk gurunya yaitu sunan Bonang. Seperti yang diceritakan di dalam suluk Linglung bahwa sunan Kalijaga lebih banyak disuruh bertapa oleh sunan Bonang. Namun dengan pertapaan yang sangat lama itu ternyata syekh Malaya pun belum merasa cukup karena ia masih belum mengerti tentang hidayah iman. Sampai-sampai syekh Malaya disuruh untuk pergi ke hutan belantara dan hidup dengan kidang selama setahun dan tidak boleh ketahuan manusia.
            Selama menjalani kehidupan sebagai seorang pertapa yang berusaha menjalankan sekaligus mengindahkan petunjuk gurunya yaitu Sunan Bonang, Sunan Kalijaga tidak terlepas dari sosok yang bernama Nabi Khidir. Di tengah perjalanan spiritualnya, ia dipertemukan oleh Nabi Khidir.
Banyak nasihat dan wejangan yang diberikan Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga, salah satunya yaitu :
“Apabila kamu tidak tahu Allah, bergurulah kepada orang yang tahu. Bila telah tahu tentang Allah, mengabdilah sebagai hamba-Nya. Sembahmu tidak perlu dengan pikiran, selalu ingat kepada Yang Maha Tahu baik siang maupun malam. Seluruh malaikat melihat bahwa kamu telah digariskan sebagai pengganti Yang Agung”.[12]
Allahlah namanya yang hidup. Yang hidup itu ruh. Hidupnya ruh disebut makrifat. Hidup itu adalah hidupnya Yang Widi. Apabila kamu ruh yang menjadi satu dengan badan. Melihat tidak dengan kedua mata kepala, mendengar tanpa telinga dan berkata tanpa lidah. Tahu badan kamu ini, tidak tahu yang Maha Menciptakan. Dalam meninggalnya besok akan sesat, karena kamu tidak tahu badan ini. Padahal kamu diasuh oleh Yang Agung.
Sungguh Maha Lebih Allah, bisa masuk pada yang keras, bisa keluar sekehendak-Nya, melebih dan merata adanya Allah. Seluruh yang ada diketahui-Nya. Tidak menyuruh dan tidak melarang atas kehendak orang. Bila orang senang berbuat baik, dia akan memperoleh hasilnya. Baik buruk datang dari dirimu, bukan dari Allah. Apabila manusia telah bulat tekadnya, dia akan dapatkan walau tinggal satu yang terakhir. Bila bukan takdirnya, tidak akan mendapat wahyu.[13]
Kepada yang Maha Mulia manunggalnya hamba dengan Allah, bila kamu berkehendak menyatakan kepada yang menguasai segalanya, yang memberi hidup kepada segalanya. Seluruh rakyat yang mukmin disebut Ruh Idhafi. Raja Ruh Idhafi disebut sifat jamal. Sifat jamal itu indah, demikianlah yang sejati, pemakaiannya di dalam batin. Yang menguasai ini di sebut Zat Kekal Maha Mulia.[14]
            Ruh Idhafi merupakan penghubung antara Jiwa dengan Tuhannya. Ruh ini bisa juga disebut dengan sukma. Dalam Suluk Linglung, ruh idhafi bisa disebut sebagai ruh yang selalu pasrah pada Dzat Allah. Ruh ini memancarkan cahaya yang berkilauan, terang benderang dan tak berwarna. Pancaran sinar ruh ini yang berkilauan disebut Premana. Adanya premana ini menyebabkan badan menjadi hidup. Menyebabkan jiwa manusia bisa aktif dan mengaktifkan badan jasmani. Dalam khazanah Jawa, Premana juga disamakan dengan nyawa.[15]
Seluruhnya akan kembali kepada yang menitipkan, kembali dalam ketiadaan. Tidak ada wujud ini. Syekh Malaya terang benderang pikirannya. Ketika mendengar wejangan Nabi tentang kebatinan dia sangat terpikat. Dia berkata dengan menyembah, “Hamba Mengikuti”.
Hidupmu di dunia sama dengan kerbau sapi, tidak berguna dalam hidup, hanya membuat banyak isi dunia saja. Camkan dengan sungguh-sungguh, wejanganku ini! Segala perlengkapanmu ini besok tidak urung akan kembali ke bumi. Bila tidak tahu hal yang semestinya, pada akhirnya meninggalnya kesasar.[16]
            Selanjutnya berbicara mengenai ilmu kesempurnaan. Ilmu itu bagaikan benih yang jika tumbuh akan menghasilkan tanaman dan tentu saja hasil panen berupa buah atau biji-bijian. Namun agar bisa tumbuh dan menghasilkan, maka biji itu harus ditanam pada lahan yang ada tanahnya. Bukan di atas batu. Batu ibarat duniawi, sedangkan tanah adalah kekosongan hati dari dunia.
            Jika di atas batu itu ada tanah tetapi jumlahnya hanya sedikit maka benih itu bisa tumbuh namun akan kerdil dan tidak berbuah. Sama halnya jika dalam hati itu sudah ada ruang untuk Tuhan, namun hanya sedikit saja, kebanyakan malah diisi untuk dunia, maka orang tersebut hanya akan mendapatkan sedikit saja manfaat dari ilmu ini. Sebaiknya memang memberikan ruang yang lebih banyak untuk ketuhanan supaya ilmu kesempurnaan ini bisa diterima oleh hati dan akhirnya bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dirinya.[17]
Berikut nasehat Nabi Khidir tentang ilmu kesempurnaan :
Sukarlah orang yang mempertanyakan ilmu kesempurnaan ini, karena jalannya sangat rumit dan sulit. Cara agar sampai pada tempat asalnya, kamu jangan tenggelam kepada kepuasan duniawi, waspadalah. Ibarat kamu bepergian tidak lama dalam tempat tujuan itu. Ingatlah, hidup di dunia anakku, supaya tenteram hatimu. Di dunia ini bergurulah, karena dengan berguru lebih beruntung. Prihatinmu akan membuat hatimu tenteram. Semua suka, mulia, orang yang taat kepada guru. Ibarat bangunan yang sangat indah tidak ada celanya sampai sekecil-kecilnya.[18]
Manusia yang berbakti kepada Allah, akan mendapatkan jalan dengan pintu yang terbuka. Ibarat masjid yang indah dengan pintu yang bisa membuka dan menutup sendiri. Bila pintu membuka, kelihatan bersinar bagaikan bulan purnama penuh. Terkena sinar bulan, dilihat bersinar menyala seperti  bara sinar dalam asmara. Bila dilihat lagi, keadaan itu tidak berubah, tetap bersinar.
Yang kusampaikan ini anakku, tentang ilmu sufi. Yang dilihat selalu badan sendiri. Seperti orang tidur. Dalam hidup sewaktu tidur akan merasa nikmat. Dalam tidur asal mulamu dahulu akan kelihatan. Hal itu tidak berbeda dengan hidup dan mati.
            Semua manusia memiliki ilmu  yang sejati, sebagian ilmu yang dimilikinya hanya semacam perhiasan saja tidak ada berkahnya. Itulah dalam hal laku, tidak selamat bila tidak mengetahui. Akhirnya menjadi berhala.
Bila kamu sakit, anakku, jangan berhenti dalam berdzikir anakku. Awaslah terhadap wujud dirimu. Ingatlah jalanku yaitu tentang hal kematian. Hendaknya kamu mengetahui yang membuat hidup. Jangan tenggelam dalam hidup, jangan suka keduniawian, ingat bahwa tidak urung akan mati. Jangan menyia-nyiakan hidup di dunia.
Tinggilah orang yang dikasih kemuliaan, kemuliaan datang dari prihatin. Rendah hati itu syarat menuai kebajikan. Yang dapat merasakan ilmu karena laku prihatin. Tidak bermewah-mewah, rendah hati dalam bersikap. Bagaikan orang menuai padi pasti akan mendapatkan bagian upah dari pekerjaannya itu.[19]
Maksud mengalirnya madu adalah orang yang diberi kemuliaan oleh suksma. Dia tetap kokoh dalam budi. Arti menjalankan tapa adalah menyakiti badan dari waktu muda sampai tua, masuk hutan yang sunyi, masuk gua bersemedi ditempat yang sepi, membunuh jiwa raga. Yang telah mendapat hidayah ilahi karena menjalankan tapa. Akhirnya dia akan mendapatkan upah jerih payahnya. Orang yang suka makan dan tidur, yang selama hidup tidak mau mengurangi, walaupun dia berilmu, ia akan mengalami kesukaran. Berbeda dengan orang prihatin, cita-citanya akan tercapai.
Yang terutama manusia hidup ini hendaklah setiap hari berniat bertapa selamanya jangan berhenti. Setiap malam berniat berjaga. Setiap hari selama hidup berniat berpuasa. Yang demikian akan dikasihi Allah.[20]
            Sunan Kalijaga menerima dan melaksanakan dengan baik wejangan-wejangan itu, hingga akhirnya beliau dianggap lolos lalu diangkatlah Sunan Kalijaga sebagai waliyullah dan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.
Berbicara mengenai Ki Ageng Pandhan Aran menarik juga. Diceritakan bahwa Ki Ageng Pandhan Aran merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga. Suatu hari, Ki Ageng Pandhan Aran mempunyai hajat, dia mengadakan pesta besar. Seluruh raja diberitahu, para pembesar diundang. Mereka dihormati dengan tabuhan gamelan yang indah. Waktu itu sunan Kali datang dengan pakaian compang-camping. Seketika itu gamelan tidak berbunyi, tidak ada yang menyambut. Lalu dia pergi pelan-pelan dan datang lagi dengan memakai pakian melebihi orang-orang dalam pertemuan. Dia disambut dengan gamelan yang indah, seluruh tamu memberi hormat. Sunan Kali berpikir dalam hati, “Yang demikian ini berarti yang dianggap saudara hanya yang kaya saja”.
Pakaianlah yang dihargai, bukan orangnya. “Segala pakaian kerajaanku ini saya relakan untukmu. Saya hendak melanjutkan niatku. Silahkan bersama-sama kamu lanjutkan hajatmu itu.”. Lalu Ki Ageng Pandhan Aran bersujud kepada Sunan Kalijaga menyerahkan hidup dan mati. Sunan Kali berkata, “Hai anakku, apakah kamu telah mantap berserah kepadaku?” Ki Ageng berkata, “Ya terserah, hamba bunuhlah”.[21]
Sunan Kali berkata pelan, “Ki Ageng Pandhan Aran, apakah rela istrimu yang paling cantik juga saya minta”, “Silahkan kehendak sang Yogi”. Segera para isteri dipanggil dihadapan sang guru. Sunan Kali berkata, “Hai Ki Ageng, saya bermaksud ingin melihat keadaan isterimu. Segeralah kamu persiapkan tempat tidur dan permaisurimu akan aku ajak tidur. Anakku kamu jangan pergi, jagalah tidurku bersama istrimu ini.[22] Ki Ageng diuji apakah dia menyesal terhadap apa yang telah ditempuh menjadi kehendaknya.
            Saat terbit fajar, Sunan Kali berkata, “Kamu telah diterima oleh Allah menjadi paku jagad. Segeralah kamu pergi ke bukit Bayat, menjadi waliyullah di Gunung Jabalkat. Tetapi jangan membawa harta, menyusahkan dan mengotori hati dan hanya menjadi berhala. Apabila kamu manunggal dengan Allah Yang Menguasi alam, jangan suka dunia. Ingatlah ciptaan itu cepat rusak dan tidak kekal. Itu nasihatku. Laksanakan nasihatku dan jangan ragu, jangan menoleh ke belakang”.







III.             KESIMPULAN
Di dalam Suluk Syekh Malaya, Sunan Kalijaga sangat menekankan pentingnya menjalankan syari'at Islam, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah saw, termasuk sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan melaksanakan ibadah haji. Seseorang harus melalui berbagai tirakat dan perenungan yang sugguh-sungguh untuk dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah (sempurna). Dengan begitulah manusia akan dapat mengerti makna kehidupan yang sejati dan mencapai makrifat.
Banyak pelajaran yang dapat  kita ambil dari kisah sunan kalijaga dalam suluk Syekh malaya ini, diantaranya Dalam menjalani segala sesuatu itu hendaknya tujuannya hanya satu yaitu Allah, seperti ketika kita menjalankan ibadah haji, apa tujuan dari ibadah haji? Apa tujuan dari kita lari-lari kecil dari bukit shofa ke marwah? Sebenarnya itu menggambarkan bahwa segala sesuatu itu porosnya hanya satu yaitu Allah. Serta apa tujuan kita melempar jumroh? Itu berarti bahwa kita harus melawan syaitan termasuk diri kita sendiri, dan lain sebagainya. Ketika kita belum mengetahui tentang sesuatu, maka kita wajib berguru kepada orang yang lebih tahu. Artinya kita wajib untuk berguru. Jangan terlalu memikirkan dunia atau terhanyut dalam kehidupan dunia,  karena dunia hanya memperbudak kita dan dunia itu hanya bersifat sementara, pada akhirnya kita akan kembali pada sang Pencipta, jadi fikirkanlah tentang akhirat. Boleh punya harta namun jangan dimasukkan ke dalam hati. Untuk menuju kepada hakikat kehidupan yang sebenarnya, kita harus menjalani proses pertapaan, karena dalam pertapaan akan menjauhkan kita dari cinta dunia serta mengajari kita untuk prihatin. Dengan itu, kita akan lebih mudah mencapai ilmu kesempurnaan.




IV.             DAFTAR PUSTAKA
AW, Yudhi, Serat Dewaruci, (Yogyakarta : Narasi, 2012).
Chodjim, Achmad,  Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat, (Jakarta : Serambi, 2013).
Dwiyanto, Djoko, Serat pustoko Rojo Purwo, (Yogyakarta : Pura Pustaka, 2006).
Poerwadarminta, W. J. S, Kamus Umum Bahasa Indonesia (edisi ketiga), (Jakarta : Balai Pustaka, 2007).
Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga, (Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2007).
Simon, Hasanu, Misteri Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008).
http://id.wikipedia.org/wiki/Suluk.






[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (edisi ketiga), (Jakarta : Balai Pustaka, 2007), h. 1156.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Suluk
[3] Djoko Dwiyanto, Serat pustoko Rojo Purwo, (Yogyakarta : Pura Pustaka, 2006), h. 43.
[4] Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat, (jakarta : Serambi, 2013), h. 7.
[5] Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), hal. 283.
[6] Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat,  h. 11.
[7] Ibid., h. 8.
[8] Maling Cluring merupakan istilah bagi pencuri yang hasil curiannya dibagikan oleh orang miskin.
[9] Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat,  h. 9.
[10] Djoko Dwiyanto, Serat pustoko Rojo Purwo, h. 44.
[11] Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar, h. 282-283.
[12] Djoko Dwiyanto, Serat pustoko Rojo Purwo, h. 60.
[13] Ibid., h. 61.
[14] Ibid., h. 62.
[15] Achmad Chodjim, Sunan Kalijaga : Mistik dan Makrifat,  h. 256.
[16] Djoko Dwiyanto, Serat pustoko Rojo Purwo, h. 64.
[17] Yudhi AW, Serat Dewaruci, (Yogyakarta : Narasi, 2012), h.182.
[18] Djoko Dwiyanto, Serat pustoko Rojo Purwo, h. 85.
[19] Ibid., h. 86-87.
[20] Ibid., h. 88.
[21] Ibid., h. 92.
[22] Purwadi, Dakwah Sunan Kalijaga, h. 200.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar