Minggu, 29 Juni 2014

MAKALAH
PEMIKIRAN FILSAFAT KARL MARX



Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Barat Modern
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Siti Nurlaili, M.Hum.
Oleh : 
Eviyati Masrina (121121008)



JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
2014


PEMIKIRAN FILSAFAT KARL MARX
PENDAHULUAN
Karl Marx bukanlah seorang penulis sistematik melainkan seorang aktivis revolusioner yang tulisannya kadang kala mengandung banyak keraguan. Ia juga merupakan seorang pemikir dan cendekia yang kaya akan gelar, sebagai filsuf, ideolog, ekonom, dan juga sosiolog. Pengaruh pemikiran Marx tidak bisa diragukan lagi dalam sejarah peradaban dunia. Karena Marx berkeyakinan bahwa tugas seorang filsuf tidak hanya menafsir dunia, akhirnya dia tidak hanya mengubah cara berpikir melainkan juga mengubah cara bertindak. Ia merupakan pembangkit kembali Materialisme dengan memberi interpretasi dan hubungan baru dengan sejarah manusia. Marx membangun suatu filsafat praksis yang diharapkan menghasilkan suatu kesadaran untuk mengubah realitas masyarakat kapitalis yang bercirikan eksploitasi, kelas pemilik modal berjuang untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dengan cara pengisapan kerja kelas buruh. Dengan demikian, filsafat Marx merupakan jalan keluar bagi masyarakat yang terasing dengan mengembangkan sistem barunya yaitu melalui perjuangan kelas sehingga diperoleh masyarakat yang tanpa kelas.









PEMBAHASAN
A. Biografi Karl Marx
Karl Marx lahir pada 5 Mei di Trier, Jerman pada tahun 1818 dari keluarga ruhaniawan Yahudi. Ayahnya, Heinrich Marx adalah seorang pengacara ternama dan termasuk golongan menengah di kota itu. Sementara ibunya adalah putri seorang pendeta belanda yang juga berbangsa Yahudi.  Keluarga Marx adalah penganut ajaran Protestan yang tergolong kelas menengah. Perpindahan dari Yahudi ke Protestan pada keluarga Marx inilah yang menciptakan ruang pikir tersendiri dalam pemikiran Marx tentang relasi ekonomi dan agama.  
Pada usia 17 tahun, tepatnya tahun 1935, Marx menyelesaikan sekolah menengah (Gymnasium) di Traves. Kemudian ia masuk Fakultas Hukum Universitas Bonn demi mengikuti kemauan orang tuanya. Di perguruan tinggi ini, Marx hanya menyelesaikan tahun pertama kuliahnya. Marx muda lebih tertarik mendalami filsafat, karena itu kemudian dia memilih belajar filsafat dan sejarah di Universitas Berlin sebagaimana cita – citanya. Selama di Berlin, Marx sangat giat memperkaya diri dalam pengetahuan melelui kegemaran membaca, menulis dan berpikir. Pada periode Marx muda inilah lahir gagasan – gagasannya yang bercirikan kemanusiaan universal. Marx prihatin terhadap kehidupan rakyat yang tertindas yang kemudian membuatnya memeras otak untuk mencari solusi guna membebaskan manusia dari ketertindasan dan aliensi. 
Marx sangat berminat pada filsafat. Marx sangat tertarik dengan cara pikir dan cara pandang dialektika yang merupakan sumbangan besar filsuf terkemuka Hegel. Minatnya yang besar untuk mengkaji pemikiran Hegel itu membuat dia bermotivasi untuk bergabung dengan “Club Young Hegelian”, sebuah kelompok diskusi yang saat itu menjadi sumber ideologi Jerman yang sangat dogmatis. Klub ini kerap memberikan kritik yang tajam pada ajaran Hegel, tokoh yang utamanya yaitu Marx, Feuerbach, Arnold Ruge, serta Bruno Bauer membentuk “sayap kiri” ajaran Hegel. Gelar Doktor dalam ilmu filsafat diraih Marx pada usia 23 tahun. Disertasinya yang berjudul The Difference Between the Natural Philosophy of Democritos and Natural Philosophy of Epicurus, diajukan di Universitas Jena pada 15 April 1841. 
Setelah menamatkan studinya dengan sebuah disertasi tentang filsafat Yunani tersebut, ia menjadi wartawan dan kemudian redaktur pada suatu harian yang diterbitkan di kota Koln. Setelah itu, Marx mengambil keputusan untuk meninggalkan Jerman. Ia berpindah ke Paris dan di situlah ia bertemu dengan Fredrich Engels (1820-1895), anak seorang pemilik pabrik tenun di Barmen (Jerman). Dalam banyak hal Marx dan Engels bekerja sama dan juga menerbitkan karangan – karangan yang merupakan buah pena mereka berdua.  Pahit getir kehidupan Marx selama di Perancis menjadi catatan sejarah pemikiran radikal Karl Marx. Pengalaman dikucilkan, diusir dan dipenjarakan membawa Marx lebih antusias belajar tentang sosialisme dari pemimpin – pemimpin sosialis bawah tanah Perancis. Semangat revolusioner dan pemikiran komunis juga dimulai oleh Marx pada fase ini.  
Ketika Marx meninggalkan Perancis, ia berpindah ke Brussel. Di situ Marx dan Engels lebih intensif mengarahkan perhatian kepada politik internasional. Mereka menjadi anggota “Perhimpunan Komunis” dan atas permintaan organisasi ini mereka menyusun Manifesto Komunis (1848), suatu pernyataan dari pihak komunis ketika suasana revolusioner dirasakan di banyak tempat di Eropa. Saat revolusi Jerman tahun 1848 Marx dan Engels pulang ke Jerman dan di sana mereka menerbitkan sebuah harian. Tetapi ketika revolusi itu ternyata gagal, mereka kembali lagi ke Paris dan akhirnya menetap di London. Di situ tahun 1867 diterbitkan buku jilid pertama yang berjudul Das Kapital yang dianggap sebagai karangan Marx terpenting. 
Di tengah pergulatannya membangun perspektif filosofinya dan mengembangkan gerakan revolusioner, Marx didera penyakit yang tak berkesudahan dan sakitnya tanpa pengobatan karena faktor kemiskinan. Pada 14 Maret Marx ditemukan meninggal di kursi depan meja belajarnya. Kehidupan Marx telah tertutup namun tidak dengan ide – idenya.  Setelah Marx meninggal, Engels menerbitkan karyanya jilid kedua dan ketiga pada tahun 1885 dan 1894.
B. Pemikiran Filsafat Karl Marx
Kerja dan Aliensi
Pandangan Marx tentang pekerjaan antara lain dikemukakan dalam “Economic and Philosophical Manuscripts”. Yang menerangkan bahwa dalam pekerjaannya manusia mengalami empat lapis keterasingannya yaitu : pertama, keterasingan dari hasil kerjanya. Dalam masyarakat industri yang kapitalis, manusia (khususnya kaum buruh) hanyalah alat dalam proses produksi. Menurut Marx barang itu adalah objektivikasi dari kerja dan hasil kerjanya adalah modal. Namun kenyataannya justru modal itu menjadi tuan bagi buruh. Bentuk seperti itu bukanlah membebaskan tetapi malah memperbudak manusia. Kedua, keterasingan manusia dari tindakan bekerja dalam bereproduksi. Yang menjadi unsur keterasingan dari kerja adalah bahwa kerja itu merupakan sesuatu yang dipaksakan kepada buruh sebagai syarat mempertahankan hidupnya. Serta yang lebih parah lagi adalah bahwa kerja itu bukan jadi milik buruh tetapi kerja itu bagi majikannya sehingga dalam kerja buruh tidak memiliki dirinya tetapi dimiliki orang lain. Ketiga, keterasingan manusia dari spesiesnya. Dalam hal ini menurut Marx bahwa hakikat spesies manusia adalah mampu menguasai alam. Apabila kerjanya hanya menjadi sarana mempertahankan hidupnya, maka berarti bahwa barang produksi hanya sebagai nilai tukar belaka. Padahal seharusnya alam itu berarti banyak baginya, sebagai perlengkapan hidupnya, sebagai objek ilmu pengetahuan, dan lain - lain. Akibatnya terjadi keterasingan yang keempat yaitu keterasingan manusia dari sesamanya. Dalam hal ini majikan maupun buruh menjadi egoistis, hanya memikirkan dirinya sendiri. 
Masyarakat Kelas
Marx mengulas secara mendalam teori kelas dalam buku The Communist Manifesto yang ditulisnya bersama friedrich Engels. Menurut Marx, perkembangan pembagian kerja dalam kapitalisme menumbuhkan dua kelas yang berbeda : kelas yang terdiri atas orang yang menguasai alat produksi, yang dinamakan kaum borjuis, yang mengeksploitai kelas yang terdiri atas orang yang tidak memiliki alat produksi, yaitu kaum proletar.  
Marx menyebut dalam struktur kelas ada kelas atas (kaum pemilik modal dan alat produksi) dan kelas bawah (kaum proletar, buruh), dan dalam kapitalis ada tiga kelas : kaum buruh (mereka yang hidup dari upah), kaum pemilik modal (hidup dari laba), dan tuan tanah (yang hidup dari rente tanah). Menurut Marx, kaum proletar pada suatu saat akan menyadari kepentingan bersama mereka (class conciousness) sehingga bersatu dan memberontak. Dan dalam konflik yang kemudian berlangsung (perjuangan kelas), kaum borjuis akan dikalahkan. Marx meramalkan bahwa kaum proletar kemudian akan mendirikan suatu “masyarakat tanpa kelas” yang kerja dan upahnya akan dibagi secara adil, tak ada orang yang dieksploitasi, tak ada orang yang menderita kehilangan dan kemiskinan. 
Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis
Materialisme adalah inti konsepsi filosofis Marx dan dialektika sebagai metodenya sedangkan penerapannya dalam sejarah manusia disebutnya sebagai Materialisme Historis. Marx menganggap bahwa dialektika Hegel adalah hukum pemikiran yang sewenang – wenang tetapi dialektika materialis yang dikemukakan Marx menjadi hukum sejarah yang sejati. 
Materialisme Historis merupakan pandangan ekonomi terhadap sejarah (economic interpretation of history). Kata historis ditempatkan Marx dengan maksud untuk menjelaskan berbagai tingkat perkembangan ekonomi masyarakat yang terjadi sepanjang zaman. Sedangkan materialisme yang dimaksud dengan Marx ialah mengacu pada pengertian benda sebagai kenyataan yang pokok (fundamental reality). 
Di dalam Materialisme historis, bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan oleh perkembangan sarana – sarana produksi yang materiil. Sebagai contoh, kita memilih pengolahan tanah, maka perkembangan sarana – sarana produksi adalah umpamanya : tugal, pacul, bajak, mesin. Biarpun sarana – sarana produksi sendiri merupakan buah hasil pekerjaan manusia, namun arah sejarah tidak tergantung dari kehendak manusia. Menurut pendapat Marx, manusia memang mengadakan sejarahnya, tetapi ia tidak bebas dalam mengadakan sejarahnya. 
Istilah Materialisme di sini berarti bahwa kegiatan dasar manusia adalah kerja sosial, bukan pikirannya. Dia menerima pengandaian Feuerbach bahwa kenyataan akhir adalah objek indrawi, tetapi objek indrawi harus dipahami sebagai kerja atau produksi. Kata historis (sejarah) dalam filsafat Marx memiliki arti bahwa sejarah bukan menyangkut perwujudan dari roh, melainkan perjuangan kelas – kelas untuk mewujudkan dirinya mencapai kebebasan.  
 Tentang konsepsi materialisme dialektis, Marx berangkat pada dialektika yang dibangun Hegel. Jika para penganut filsafat idealisme menilai bahwa dialektika hanya dapat diterapkan di dalam dunia abstrak, yaitu dunia pikiran manusia, maka ia tidak demikian. Ia menyatakan bahwa dialektika terjadinya di dunia nyata atau dunia materi. 
Metode dialektis ini digunakan Marx untuk menganalisis realitas ekonomi pada zamannya dan tidak hanya berhenti pada penjelasan teoritis tapi dalam tataran praksis bagaimana realitas ekonomi yang menindas tersebut dapat ditaklukkan menuju perbaruan dan perbaikan yang diinginkan. Materi diartikan sebagai segala sesuatu yang berupa objek atau kegiatan rohaniah manusia yang meliputi pikiran, perasaan, kemauan, watak, sensasi dan cita – cita. Menurut Marx, materilah yang primer, sedangkan ide atau kesadaran adalah yang sekunder. Dengan demikian pandangan Marx disebut Materialisme Dialektik. 
Menurut materialisme, materi saja yang nyata. Di dalam hidup kemasyarakatan satu – satunya yang nyata adalah adanya masyarakat. Kesadaran masyarakat yaitu ide – idenya, teori – teorinya dan pandangan – pandangannya hanya mewujudkan suatu gambar cermin dari apa yang nyata. Oleh karena itu, jika kita ingin mengenai daya – daya pendorong yang ada di dalam hidup kemasyarakatan, kita jangan berpangkal dari ide – ide atau teori – teori itu, sebab semuanya itu hanya gambaran – gambaran dari hal yang nyata. Kita harus mencari landasan material hidup kemasyarakatan ialah cara bereproduksi barang – barang  material.  Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Marx mengemukakan tentang kegiatan dasar manusia adalah kerja sosial atau praksis sosial dan bukan pikiran atau ide. Marx menegaskan bahwa kerja berkenaan dengan sifat dasar manusia yang membedakannya dengan yang lainnya. Kerja merupakan realitas yang sebelumnya kita bayangkan dalam alam imajinasi. Penggunaan istilah kerja oleh Marx tidak dibatasi tindakan ekonomi saja tetapi mencakup seluruh tindakan produktif ketika kita mengolah alam material untuk tujuan kita.  
Dalam struktur masyarakat kapitalis, modal produksi telah melahirkan dua kelas yakni kelas pemilik modal dan kelas pekerja. Dalam hal ini kelas pemilik modal sebagai penguasa atas alat produksi serta merta mengisap kelas pekerja dengan pemberian upah yang tidak setimpal dengan hasil kerjanya sehingga selain menjadikan kelas pekerja terpuruk juga menjadikan kelas pekerja teralienasi dengan hasil kerjanya. 
Perjuangan Kelas
Karl Marx menerangkan bahwa sejarah manusia ditentukan oleh sarana – sarana produksi, dan sarana – sarana produksi itu menentukan hubungan – hubungan produksi. Sebagai contoh pada abad ke-19, masyarakat industrialis kapitalis terdiri dari dua kelas yang saling bermusuhan karena pembagian hasil produksi ang tidak adil. Di satu pihak terdapat kaum kapitalis yang memiliki sarana produksi dan di lain pihak terdapat kaum proletar yang menjual tenaganya kepada kaum kapitalis. Akibatnya kaum proletar mengalami aliensi. 
Aliensi tersebut menimbulkan ketegangan antara dua kelas yang ada dalam masyarakat industri. Ketegangan itu terus meningkat menjadi permusuhan dan inilah yang disebut perjuangan kelas. Perjuangan kelas itu akan menghasilkan masyarakat tanpa kelas di mana sarana – sarana produksi menjadi milik bersama. Dengan kata lain perjuangan kelas perlu untuk mewujudkan masyarakat komunis, di mana akhirnya aliensi dan ketidakadilan pembagian hasil produksi ditiadakan. Dalam masyarakat komunis ini menurut Marx, kelas sosial telah tiada dan dengan sendirinya pertentangan kelas juga berakhir.



KESIMPULAN
Filsafat Karl Marx merupakan salah satu filsafat yang paling berpengaruh di dalam perkembangan sejarah. Namun dengan demikian dia tidak pernah sepi dari ktitikan dan pujian, karena gagasannya yang mampu untuk berdialektika oleh zaman. Apapun tanggapan dunia tentangnya, kehadiran Marx memberikan kesadarn terhadap kaum buruh, budak dan aktivis sosial untuk berjuang mewujudkan perubahan. Tujuan akhir dari Karl Marx ialah dengan menjadikan masyarakat tanpa kelas sehingga mewujudkan masyarakat komunis di mana aliensi dan ketidakadilan pembagian hasil produksi di tiadakan. Setelah mencapai komunisme penuh, prinsip ekonomi meningkat menjadi “setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, dan menerima sesuai kebutuhannya”. Dalam masyarakat komunis ini menurut Marx, kelas sosial telah tiada dan dengan sendirinya pertentangan kelas juga berakhir. 












DAFTAR PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo, Sejarah Pemikiran Barat dari yang Klasik sampai yang Modern, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2013.
Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta : Kanisius, cet. 5, 1998.
Budi, Hardiman F, Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta : Gramedia, 2004.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta : Kanisius, 1980.
Suyanto, Bagong, dkk., Filsafat Sosial, Yogyakarta : Aditya Media Publishing, 2013.

Zubaedi, Filsafat Barat, Yogyakarta : Ar-Ruz Media, 2010.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar